Kamis, 11 Agustus 2011

Aku Cinta Indonesia

Judul : A.C.I
Karya : Kiem
Produksi : GK
Tahun Cetak : 80-an


ACI : Selalu dikenang (lokasi SMA 34 Jakarta)
Bagi yang masih terkenang pada periode awal tahun 1980-an, pasti masih teringat dengan beberapa bait lagu seperti ini “hanya ada satu cinta, dengan bumbu rindu selalu, hanya ada satu rindu, tanpa ragu tanpa cemburu, hanya ada satu cinta, bukan tujuh bukan seribu, cinta kita cinta bersama da da da da da da”
Lirik Lagu tersebut ditulis Arswendo Atmowiloto dan lagunya dibuat Tony Dance sebagai klip populer dengan film serial ACI (Aku Cinta Indonesia) yang di tayangkan TVRI waktu itu. Lagu yang di kasetkan dengan beberapa lagu lainnya telah menjadi daftar tunggu anak-anak sekolah selepas pulang belajar dan disenandungkan setiap siaran radio memutar lagu Aku Cinta Indonesia.
Film serial ini bertemakan pengembangan akan nilai-nilai kepribadian anak dan remaja yang tanggung jawab, disiplin, kerja keras, kerjasama, toleransi, saling menghargai/menghormati, sikap bersaing sehat, persahabatan, dan sikap sportif.
ACI yang di bintangi tiga sahabat SMP Kota Kita yaitu Agyl Syahrial, Ario Sagantoro dan Dyah Ekowati Utomo serta Tursina Andriani. Membius kenangan masa kecil dengan cerita yang penuh inspiratif dan edukatif masa-masa sekolah pada masa 20-an tahun silam.
Tersebutlah ketika terjadi konflik masa remaja Amir (Agyl Syahrial) ketika dia ditantang berkelahi dengan berandalan sekolah lain. Dengan sikap jantan, Amir memenuhi tantangan tersebut duel satu lawan satu, ternyata musuhnya menggunakan senjata tajam menusuk perut Amir dan lawannya kabur.
Amir tertelungkup dan bangkit kembali, ternyata dia telah mempersiapkan diri dengan sabuk besar kulit yang melingkar di perutnya yang dipinjam dari penjaga sekolah ketika bel tanda bubaran belajar berdentang.
Ketika bertemu kembali keesokan hari dengan anak tersebut, dia tercengang dan menganggap Amir sakti tidak mempan senjata.
Semasa akil baliq atau menuju kedewasaan juga di terjemahkan dalam mini seri tersebut dengan cerita yang mengalir apa adanya, sesuai pada logika bahwa cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja.
Ketika Cici (Dyah Ekowati Utomo) yang manis dan mudah bergaul merasa aneh terhadap dirinya, ketika berpandangan mata dengan teman terdekat Ito (Tommy Pudyatama) dan merasa bersalah atas sikapnya yang gundah gulana, seperti diceritakan ibunya pun turut membantu bahwa anaknya telah menginjak dewasa dengan ditandai dengan ‘datang bulan’/menstruasi.
Pada setiap episode ACI terdapat lagu yang mendukung permasalahan yang sedang dihadapi ketiga tokoh sentral ini, mengandung makna dan penjelasan tentang situasi yang sedang dihadapi ketiga sahabat karib ini. Hampir seluruh cerita di serial ini mengisahkan konflik antara trio ACI dengan Wati (Tursina Andriani) yang di gambarkan tokoh antagonis yang judes dan culas.
Film serial ACI yang dirancang dan diproduksi oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (PUSTEKKOM) waktu itu menggugah bahwa produksi perfilman yang ditayangkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) mampu membentuk insan masa depan yang penuh manusiawi dan tidak bertemakan kekerasan, kecengengan serta munafik panggung sandiwara.
Pertanyaannya, dimanakah mereka saat ini, ketiga tokoh sentral yang menjadi panutan yang paling di tunggu anak SMP saat itu. Masih di jamannya, korespondensi berupa fans idola kartu-kartu pos dan surat-surat, foto-foto mungkinkah masih di koleksi oleh mereka, ataukah hanya kenangan yang tersalip dengan perfilman sinetron saat kini. Sudah bukan jamannya mungkin, tapi patut di teladani cerita-cerita yang disuguhkan TVRI dengan ACI (Aku Cinta Indonesia).
Ito (Tommy Pudyatama) , lahir 12 November 1970, mendalami bidang acting mulai awal 1980-an dengan bergabung dengan Production House (PH) Image Maker, kemudian ia banyak terlibat di PH lain seperti Bumimedia, Katena Films serta Gama Films. Selain itu ia juga pernah menjadi juara III Abang Jakarta 1992, untuk wilayah Jakarta Selatan, juara II pemilihan Model Batik 1993, juara III model Jeans 1993, bintang iklan Matahari Department Store dan model di beberapa majalah remaja seperti Mode dan Aneka Yess!, setelah sebelumnya terpilih sebagai salah satu Finalis Cover Boy Majalah Mode tahun 1991. Meskipun tidak keluar sebagai pemenang, namun wajah hitam manisnya saat itu mampu memikat para fotografer majalah Remaja ternama.
Banyak sutradara asing maupun lokal yang pernah memakai wajah hitam manisnya di beberapa film televisi, antara lain Ipang Wahid, Iman Brotoseno, Wendy Haryoso, Agung Dewantoro dan Isaac Wee. Karirnya sebagai pemain Sinetron dimulai di Gama Films yang ditayangkan di televisi.
Film yang dibintanginya dari tahun 1986-1992 seperti Film Lupus, Kamus Cinta Sang Primadona, tutur tinular, Tirai Perkawinan, Perisai Kasih yang Terkoyak, Roh, Nuansa Gadis Suci, Ricky, dan Si Manis Jembatan Ancol.
Amir (Agyl Shahriar), lahir 5 Februari 1969, terakhir menjadi produser film Merantau, sedang Cici (Dyah Ekowati Utomo) ketika dikonfirmasikan tempat tinggal lama di Jalan Garuda kemayoran telah lama daerah itu digusur pelebaran jalan, Wati (Tursina Andriani) khabarnya telah hilang entah kemana.
Semoga keteladanan mereka pada film mini seri tersebut tertularkan kepada anak serta cucu mereka.
“A Ce I Aku Cinta Indonesia, A bisa Amir, C bisa Cici, I bisa Ito …. Tapi A Ce I ….. Aku Cinta Indonesia”. (Jakartacitydirectory.com)

1 komentar:

  1. Saya dulu disebut2 mirip dengan Hengki (kata nenek saya alm.) & kebetulan waktu itu juga saya lagi sekolah di SMP.

    BalasHapus