Senin, 29 Oktober 2012

POTONGAN : Yoan Tanamal

Judul : Yoan Tanamal
Tahun Cetak : 80-an

Johana Maria Frances (1971) atau lebih dikenal dengan nama Yoan Tanamal adalah anak dari pasangan Enteng Tanamal dan Tanty Yosepha yang terkenal sebagai penyanyi cilik Indonesia pada era 70-an. (wiki)
Joan sukses di album pertama Si Kodok yang membawa namanya sejajar dengan penyanyi - penyanyi cilik di masa 70-an seperti Chicha Koeswoyo, Bobby Sandhora, Adi Bing Slamet dan Sari Yok Koeswoyo. Yoan sangat lucu dan menggemaskan ketika merilis album ini. Tidak heran namanya langsung melejit dan lagu Si Kodok dan Goyang goyang juga menjadi lagu yang banyak dinyanyikan anak-anak pada masa itu. Album ini didukung penuh oleh orangtua Joan, Enteng Tanamal dan Tanty Yosepha. Hits lain dari album ini antara lain "Aku sedih" , "Yoan Sakit", dan bahkan lagu "Mandi Pagi" pada waktu itu menjadi lagu iklan sebuah sabun mandi keluarga.
Diskografi

Album Si Kodok (1977); produser Enteng Tanamal dan Produksi Yukawi Indo Music
"Si Kodok" - ciptaan Tanty Yosepha dan Enteng Tanamal
Goyang goyang, Aku Sedih, Mandi Pagi, Ke Sekolah, Baju Ulang Tahun, Si Ali, Yoan Sakit, Bunga bunga, Selamat Tidur Sayang, Berenang-renang

Album kedua "Marah-marah" dan "Do Re Mi" 1977 di Produksi : Yukawi Record
"Marah marah" - ciptaan Enteng Tanamal, Do Re Mi, Oma Opa, Ayo Kemari, Burung burung, Mari Berkawan dan Bernyanyi, Bertamasya, Kumbang dan Kupu-kupu, Mama Papa Bercerita

Sinematografi
Film

Yoan (1977) bermain bersama orang tuanya (Enteng Tanamal dan Tanty Yosepha serta pemeran-pemeran lainnya seperti Didu MS, Tan Tjeng Bok, S. Bono, Chitra Dewi dan Yatti Kesumah; disutradarai oleh Nico Pelamonia dan fotografi oleh Akin; komposer Enteng Tanamal dan diproduksi oleh P.T. GARUDA FILM
Detik Terakhir (2006) bermain dengan Cornelia Agatha dan Dewi Irawan

Sinetron

Dunia Tanpa Koma (2006)



lagunya yg kuingat : AKU SEDIH DITINGGAL PERGI. MAMA PERGI PAPA PERGI. O ITU DIA MEREKA DATANG. HATIKU SENANG dst
atau yg ini : Mandi Pagi sudah biasa, mandi sore juga biasa, (tidak mandi juga biasa)...


namun sayang, Yoan pernah kena budak narkoba :
Yoan Tanamal, Di Balik Bangkai Ada Madu


Kehilangan cinta dan perginya orang yang dicintai terkadang membawa kita ke tubir pengharapan. Joan mengalami semua itu. Namun, proses waktu, memori cinta sang ibu, peran penting bu Mar serta anugerah-Nya membangkitkan kembali semangat dan tujuan hidupnya.

Yoan Tanamal, puteri musisi terkenal Enteng Tanamal, bercerita dengan jujur, saat mengalami peristiwa pahit dalam hidupnya. “Sejak umur 12 tahun saya hidup tanpa papa. Papa dan mama berpisah tempat,” ujarnya lirih. Yoan tinggal dengan Ibunya sehingga hubungan mereka begitu dekat. Ketika Ibunya meninggal ia masih dapat merasakan kehangatannya. “Ibu saya sangat keras. Tapi setelah ibu meninggal, semua tegurannya, kecerewetannya, masukannya sangat menguatkan saya,” kata anak tertua Tanti Yosepha ini.

Terjerat Narkoba!

Kematian ibunya adalah puncak seluruh dukanya. Di titik inilah Yoan menga­lami keguncangan yang berat. Dunia narkoba mulai disentuhnya. Sekitar 3 tahun, sejak tahun 1999 sampai 2002, Yoan mulai terikat dengan drugs. “Di SMA saya pernah pakai, tapi itu tidak terlalu parah dibanding drugs yang sekarang lagi marak. Jadi, saya pikir yang paling membuat saya benar-benar tidak punya misi lagi untuk hidup, ketika saya terjun ke dunia drugs,” ungkap perempuan kelahiran 6 Oktober 1971 ini.

Yoan menyadari ketergantungannya dengan narkoba tidak serta merta membuatnya menyalahkan orang lain. “Siapa pun, tidak bisa disalahkan. Mungkin karena tidak ada keterbukaan. Apalagi sama ayah saya,” kata pemilik album Si Kodok ini.

Sebelum ia ditangkap polisi pada 5 Juni 2002, 2 bulan penuh ia hidup di jalanan dan tidak bisa bayar kos. Kerap kali ia tidur di tenda di pinggir kali dekat Pasar Rumput, Manggarai dengan sewa Rp 3.000/malam. Keadaan ini sangat berat ia rasakan. “Ketika saya ditangkap tahun 2002, itulah titik puncaknya sampai nggak punya visi untuk hidup lagi,” ujarnya.

Pelajaran di Penjara

Di penjara Yoan banyak merenungkan kenangan indah bersama ibunya. Nasihat ibunya kembali kembali memutar ingatannya. Ibunya selalu mengatakan, ”Di balik bangkai ada madu.” Ungkapan itulah yang memberikan kekuatan bagiku. Bangkai itu kan sesuatu yang tidak disukai orang, dibuang, menjijikkan. Ke­pahitan, kegagalan hidup dan lain sebagainya harus kita terima, tapi kita juga minta kekuatan Tuhan,” ungkap Yoan mengaku tidak ingin menyanyi yang sekuler lagi. Yoan memandang ia harus menerima masalah itu de­ngan iman. Bagi­nya itulah madu sebagai anugerah dari Tuhan. Ia mengaku, banyak belajar dari mendiang ibunya. “Ibu saya selalu bilang, ‘Kanker getah bening dan darah yang saya alami ini adalah hadiah dari Tuhan,”’ katanya mengenang. Saat ia ditangkap, Yoan menyakini itulah tangan Tuhan yang menangkapnya, bahkan Yoan merasa se­perti dihipnotis Tuhan.
“Saya serahkan semua ke Tuhan. Saya benar-benar berserah. Saya bilang, dari permulaan Engkau yang tangkap saya. Ditangkap bukan untuk dibuang tapi untuk diselamatkan,” ujarnya yakin.

Bagaimana Yoan bisa bangkit dan punya rasa percaya diri? Baginya, semua karena kasih Yesus. Momen yang sangat diingatnya dan memberinya kekuatan saat ia berada di Polsek Tebet. “Saat itu saya merasakan Tuhan amat dekat di hati ,” kenang Yoan.

Dalam pemulihan selanjutnya, yang paling berperan mendampingi Yoan sebagai teman berbagi adalah Ibu Mar, teman ibunya. “Ibu Mar sangat berarti dalam hidup saya. Ia yang mengasuh saya sejak kecil. Sampai sekarang saya masih berhubungan sama dia. Selama 50 hari saya di polsek, dia yang bawain makanan secara rutin. Dan dalam sidang saya selama 13 kali dia selalu hadir,” tandasnya.

Bagi Yoan hikmah selalu datang belakangan. Yoan ingin membuat album rohani yang terbaik. Ia bersyukur, Tuhan memberi jawaban melalui penjara. Alhasil, karena penyerahannya yang total, vonis penjara seumur hidup pun berubah menjadi setahun

(Eman/Wea)(http://dansoindomychurch.blogspot.com)

2 komentar:

  1. Saya beruntung bisa mendengarkan kesaksian Tanty Yosepha ketika ditinggal Enteng dan terkena sakit yang menyebabkan hidupnya harus seperti kepompong atau ulat yang selalu dibalut bedak karena penyakit kulit. Di awal kesaksian saya bilang, ah Penyelenggara payah nih, katanya ada kesaksian dari Tanty Yosepha, tapi kenapa yang hadir malah cewek (maaf) jelek, item, dekil. Ternyata dialah Tanty Yosepha, artis pujaan saya karena cantiknya yang luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua tidak ada yang tahu ya pak

      Hapus